dapit budi's blah blah things


2007-04-03

Road to Gede #1

Setelah sekian lama memendam keinginan dan tergagalkan karena banyaknya kendala akhirnya dengan beberapa teman dari NOC Danamon dan Monitoring melancarkan serangan ke Gunung Gede. Sebenarnya rencana keberangkatan adalah bulan maret tetapi karena TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango) baru dibuka untuk pendakian adalah awal Maret 2007 maka kami pun menetapkan awal bulan april yaitu 3 April 2007 yang jatuh pada hari selasa untuk hari pendakian kami. Kami memilih hari kerja adalah sengaja supaya gunung yang kami naiki tidak terlalu banyak orang.

Oh iya, kami yang berangkat Reza, Gandi, P Syarif, Fatir dan gue sendiri Dapit. Ya kami hanya berlima dari rencana 8 orang yang akan berangkat, 3 orang tidak ikut karena ada kepentingan yang harus mereka lakukan.

Jam 7 pagi kami sudah berkumpul di kosan fatir; tempat semua perlengkapan dipusatkan. Setelah semua siap kami pun berangkat pada pukul 8 menggunakan bis dari depan Hypermart Serpong menggunakan bis Tangerang - Bogor (10k per orang) untuk bertemu dengan Pak Syarif yang menunggu langsung disana karena akan lebih jauh bila ia ke Serpong padahal rumahnya di Depok. Di tengah perjalanan saya sempat turun dari bis untuk membeli lampu badai karena lampu yang Gandi bawa tidak bisa digunakan. Di daerah Parung saya turun dan membeli lampu tersebut seharga 23 ribu rupiah dan perjalanan pun di lanjutkan sampai ke bogor. Sebelum jam 10 kami sudah sampai di Hero Pajajaran Bogor dan bertemu dengan P Syarif yang sedang ngopi menunggu kita. Beberapa dari kami pun ikut sarapan di situ dan kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan elf Bogor - Cianjur (10k per orang). Dari bogor Elf yang sudah dipenuhi orang yang menuju Cianjur pun masuk tol dan keluar di Ciawi yang kemudian berjalan melewati Puncak sehingga akhirnya sampai di Cibodas sektiar jam 11.30.

Sampai di Cibodas kami melakukan final check dan makan siang dulu. Setelah kenyang dan siap melanjutkan perjalanan beberapa barang kita beli mulai dari nasi sampai minyak tanah buat lampu badai. Dari jalan raya Cibodas naik ke Kawasan Wisata Cibodas kita menggunakan angkot (3k per orang) dan kemudian melakukan pendaftaran untuk pendakian ke mbak-mbak yang sedang PKL di TNGP. Kami sudah mengefax seluruh data peserta 1 minggu sebelumnya ke TNGP dan sudah dikonfirmasi sehingga untuk mendapatkan dokumennya tidak sulit. Untuk masuk kawasan TNGP 1 orang dikenakan biaya administrasi sebesar 7k untuk 2 hari dan kami harus membayar sebesar 56k karena yang didaftarkan melalui fax adalah sebanyak 8 orang, sedikit kesel juga karena hal tersebut ya tapi tidak mengapa karena ini akan jadi pelajaran.

Setelah administrasi selesai diurus, teman-teman pun kemudian menunaikan shalat dahulu dan sekitar jam 1 siang semua kami pun memulai pendakian dengan sebelumnya mengucap doa untuk perjalanan yang akan kami tempuh.

Di pos pertama kami memberikan surat jalan yang kami dapat dari bagian administrasi ke penjaga pos. Penjaga pos dibantu oleh orang dari departemen kehutanan pun memberikan himbauan dan aturan untuk pendakian. Barang-barang yang kami bawa dan potensial mengotori TNGP didata, Sabun/Shampo/Odol tidak diperbolehkan dibawa dan harus dititipkan di pos, Benda tajam: Golok dan Pisau tidak boleh dibawa, ada konsekuensi untuk beberapa benda yang diperbolehkan dibawa untuk keperluan di atas. Kami mendapatkan konsekuensi untuk membawa cutter. Fatir menitipkan Sabun dan Odolnya, Pak Syarif menitipkan sabun yang baru saja dibeli sedangkan gue menyelundukan Sabun dan Odol di tas.

Perjalanan dimulai kembali, kami berlima pun kembali berjalan mendaki dengan tujuan sampai di kandang badak malam hari. Jalan yang kami tempuh lumayan mendaki sekitar 20 derajat, jalanan yang berbatu-batu, pohon-pohon yang rindang yang menghalangi cahaya matahari di siang hari, terkadang kami bertemu dengan beberapa rombongan yang baru turun gunung atau pulang dari wisata air terjun. Pos pertama yang kami temui adalah Telaga Biru, di depan pos terdapat kali yang memiliki air yang sangat jernih dan segar sehingga kami pun bisa mengisi botol minum dengan air tersebut sebagai bekal kami minum di perjalanan. Telaga Biru sendiri adalah seperti danau yang kecil hampir seperti empang yang menurut informasi warna air dapat berubah-ubah sesuai dengan kandungan yang terdapat di dalam air. Waktu saya lihat ternyata biasa saja, air tidak berwarna menarik dan di dalamnya terdapat ikan mas yang berenang-renang. Seperti empang biasa. Perjalanan kami lanjutkan, udara yang segar, suasana hutan yang sunyi dan canda kami berlima lah yang memecah suasana tersebut. Gandi dan saya berjalan paling depan sedangkan P Syarif, Fatir dan Reza berada di belakang dan kami berdua pun terkadang berhenti untuk menunggu ketiga orang di belakang yang berjalan lebih lambat dari kami. Saat menemukan momen-momen bagus dengan pemandangan indah kami pun berhenti untuk sekedar bergaya dan mengabadikan saat tersebut melalui digital camera yang dibawa oleh Reza dan P Syarif juga melalui camera phone-nya Fatir.

Sesaat kami sudah merasa lelah kami pun mengeluarkan cemilan-cemilan yang kami bawa dari mulai snack, permen, coklat sampai mie instant, oh iya gula merah juga menjadi makanan favorit yang menemani kami. Kami menemukan 2 jalan, 1 menuju air terjun dan yang lainnya menuju puncak. Karena air terjun tidak terlalu jauh dari percabangan kami pun memutuskan untuk melihat dan menikmati pemandangan air terjun untuk beberapa saat. Tinggi air terjun sekitar 30 meter dengan debit air yang tidak terlalu besar namun cukup berisik dan cipatran airnya membelai lembut wajah lelah kami yang berjarak sekitar 10 meter dari jatuhnya air terjun. Tidak lama kami bersantai disitu, setelah melihat-lihat dan berfoto ria kami pun kembali ke jalan awal dan melanjutkan pendakian.

Saat sore menjelang sekitar jam 5 hujan rintik mulai turun dan membasahi kami, di tengah kelelahan kami pun langsung membongkar tas untuk memakai jas hujan supaya air hujan tidak membasahi kami. Selain jas hujan kami pun sekaligus mengeluarkan senter yang kami bawa masing-masing karena tidak lama lagi kegelapan akan menyelimuti perjalan kami.

Senter kami nyalakan dan kami melanjutkan perjalanan dalam hujan gerimis, basah semua, gelap ditambah dengan jalan yang semakin menanjak. Karena hujan jalan semakin licin karena tanahnya menjadi basah kami pun lebih berhati-hati di dalam melangkah, beberapa pohon tumbang sesekali menghalangi perjalanan setapak kami sehingga kami pun harus melalui kolong atau memanjat tumbangan pohon tersebut. Pendakian di TGNP ditutup selama 4 bulan dan baru dibuka untuk umum baru sekitar 4 hari sehingga jalan setapak pun terlihat belum terlalu jelas.

Jam 7 malam dengan cuaca yang masih gerimis dan malam yang gelap kami bertemu dengan jalur yang cukup ekstrim, orang-orang menyebutnya air panas dan memang benar jalan yang kami lewati adalah sumber air panas yang turun dari gunung yang kemudian turun ke lembah menjadi air terjun air panas. Kami mengalami kesulitan dalam melalui track ini karena air yang terlalu panas, batu pijakan yang licin, ruang gerak yang sempit sampai jurang yang berada di sebelah kanan kami yang dibatasi oleh kawat baja seadanya. Kami pun harus berhati-hati sewaktu melewati track ini apalagi dalam gelap. Track 20 meter tersebut akhirnya dapat kami lewati dengan selamat dan kami pun lanjutkan dengan beristirahat dengan pos yang berada tidak jauh dari kali air panas tersebut. Sedikit makan dan minum di pos kemudian kami lanjutkan perjalanan.

Perjalanan selanjutnya cukup lebih membingungkan karena kami menemukan kawasan yang luas dimana jalan setapak yang biasanya menuntun kami berjalan tiba-tiba sulit untuk ditemukan, kami pun menelusuri pinggiran kawasan tersebut untuk mendapatkan jalan, beberapa jalan yang kami ambil mengarahkan kami pada jalan yang buntu dan tidak dapat dilewati.
Kami sempat berkumpul untuk mencoba mencari jalan keluar dari sini dan kemudian bersama-sama melalui jalan setapak yang lain dan kemudian menemukan kebuntuan. Akhirnya dengan perasaan yang panik dan kuatir kami pun putuskan untuk kembali ke pos dan membuat camp disana dan biarlah perjalanan kami lanjutkan besok pagi. Target untuk sampai di kandang badak malam ini pun kami urungkan demi keselamatan kami semua.

Pos Air Panas pun menjadi tempat berlindung dan beristirahat kami malam itu. Camp didirikan di dalam pos, alat masak dan makan kami siapkan, lampu badai dinyalakan, terpal, sleeping bag, perlengkapan tidur pun tidak lupa kami siapkan.
Malam ini kami makan sarden, mie instant dan minum teh/kopi untuk menghangatkan badan kami. Persediaan nasi kami hanya untuk malam ini karena Pak Syarif lupa membawa beras karena terburu-buru, sehingga selanjutnya kami hanya memakan mie instant dan snack saja, saya sempat mengeluhkan keadaan ini karena dengan kekurangan makanan pastinya akan menghambat perjalanan kami, tapi sudahlah kita sudah berjalan.

Sebelum tidur kami mengobrol dan membahas perjalanan yang tadi kita lewati dan apa yang akan kita lakukan besok hari sampai akhirnya pun kami tertidur semua ditemani oleh suara air terjun dan angin malam.


Boedhies merindukan cintanya jam 22:36

***


Comments: Post a Comment

End of things


Siapa ?!?!?
Hai semua, jumpa lagi dengan siapa ya ? panggil aja dapit, supaya akrab ajah cihuy kan ?? lagi gawe di Menara Thamrin, Kuliah di daerah Kuningan, US ?? bukan Jakarta Cing Indonesia pipeul aing.. Lahir di Cimahi City ehem2.. di kampung bernama BAROS, masa kecil yang indah di situ, masa gede di jakarta crowded city hehehehe. Disini coba dituliskan perjalanan sehari hari dapit yang paling membosankan. Okeh THat's All.
Cheers + Beers + Tears



Name :
Web URL :
Message :
/div>



TEuInG


blogger for engine.
blogskins for the skins.
doneeh for the shoutbox + comment.
serendipityq for layout.