dapit budi's blah blah things


2007-02-09

Jakarta Underwater

Malam itu aku sedang nonton sinetron sedangkan jepe lagi nginstall ubuntu di ruang tv kontrakan. Cuaca di luar sudah hujan lumayan lebat padahal malam ini aku harus shift malam. "Ah, mungkin sebentar lagi hujannya reda" pikirku yang kemudian menelpon ke gatot untuk menunggu di kantor sebentar karena aku pasti akan terlambat masuk jika harus menunggu hujan selesai. Setelah mandi dan bersiap-siap tetapi hujan masih belum reda, koq lama ya?

Jam 9.30 PM pintu rumah diketuk oleh bang rohani yang jaga kontrakan sambil berteriak "Air Masuk!", kami pun langsung mencoba membendung air yang masuk sambil melindungi barang-barang dari terjangan air supaya tidak basah terutama barang elektronik. "Wah Banjir lagi."

Sekali lagi aku menelpon ke gatot untuk meminta dia agar menggantikan shift-ku karena aku tidak bisa keluar rumah dan ia pun menyetujuinya.

Air masuk hampir semata-kaki orang dewasa, seluruh penghuni kontrakan ketapang bawah pun sibuk membendung rumahnya agar tidak dimasuki air. Setengah jam berlalu tetapi hujan tidak reda dan air masih tetap setinggi mata-kaki.

Sekitar 1 jam setelah air masuk barulah air yang lebih banyak datang memasuki rumah-rumah kontrakan sampai ibu tetangga depan rumahku beserta anaknya menumpang berlindung di kontrakanku karena rumahnya tidak ada bendungan seperti yang jepe dan aku buat. Wah tetapi sepertinya air semakin tinggi dan bendungan yang kami buat pun tidak mampu menahan debit air yang begitu deras.

Ini belum pernah terjadi sebelumnya, akhirnya kami semua warga kontrakan disitu berinisiatif untuk segera mengungsi karena air sangat cepat membanjiri rumah-rumah disitu. Tanpa pikir panjang aku pun langsung mengambil ijasah dan beberapa pasang baju serta celana untuk jaga-jaga jika memang semua barang-barang terendam banjir. Beberapa barang elektronik sudah diamankan di tempat yang lebih tinggi tetapi kedua handphoneku yang aku letakan di atas lemari plastik sempat masuk ke dalam air karena lemari itu terbalik yang dengan cepatnya aku selamatkan.

Pergerakan ke area pengungsian yang merupakan rumah pemilik kontrakan cukup sulit karena air sudah tinggi sekitar sepinggang orang dewasa dan jalan yang kita ambil pun tidak pernah kita lewati. Hujan semakin deras, baju yang kita pakai pun basah, anak-anak kecil dan orang tua mereka nampak kebingungan karena bencana ini. Anak pemilik kontrakan pun segera menerima kami untuk berlindung di rumahnya yang lebih tinggi dan tidak terkena banjir.

Mencoba menyalakan kedua handphone tetapi tidak bisa karena sudah kemasukan air, aku pinjam handphone jepri dan mengabarkan kondisi saya ke mama sekitar jam 1.30 AM dan mama pun terkejut. Semoga banjir ini cepat surut pikirku.

Ketika kedua kalinya aku mencoba menggunakan telepon seluruh jaringan telpon selular mengalami kesulitan dalam menghubungi beberapa operator selular dan GSM, mungkin karena terlalu banyak orang yang menelpon. Coba nonton televisi tetapi belum ada laporan visual mengenai bencana banjir malam itu. MetroTV menampilkan running text bahwa Jakarta terkena bencana banjir tetapi tidak terperinci karena menurut saya banjir yang terjadi saat itu adalah banjir yang sangat besar. Karena berita tidak kunjung ada aku pun segera ganti baju dan mengistirahatkan diri di ruang tamu P Haji pemilik kontrakan bersama tetanggaku.

Pagi harinya aku pun bangun tetapi hujan masih belum berhenti malah semakin lebat. Beberapa orang sudah mulai kembali ke kontrakan untuk menyelamatkan beberapa barang yang mungkin bisa diselamatkan. Segera aku dan jepe pun berganti pakaian dinas yaitu pakaian yang semalam kamipakai berbasah-basahan untuk mengungsi. Kembali ke kontrakan yang kita lihat tidak seperti malam hari yang gelap dan tidak terlalu nampak. Pagi ini matahari tidak bersinar cerah tetapi cukup mendung untuk dapat melihat kondisi kontrakan yang sudah terendam sampai ke dada orang dewasa. Jalan yang menuju kontrakan yang dibawahnya terdapat kali mengalir deras air cokelat menuju pabrik di belakang kontrakan.

Sampai ke rumah, motor adalah barang pertama yang kita selamatkan kemudian televisi, dvd dan baju-baju yang masih kering. Beberapa barang-barang kami sudah tidak terselamatkan lagi. Kaset dan CD koleksi saya pun sudah entah dimana tidak terlihat, buku-buku pelajaran dari semester 1 sampai sekarang pun sudah tenggelam, kasur dan lemari pun terendam. "Ah sial banget" pikirku.

Hujan semakin deras dan air pun semakin tinggi hampir seleherku. "Ah sudahlah biarlah yang sudah terkena banjir yang penting diriku selamat dulu lah." Di rumah Pak Haji air sudah naik sampai masuk ke kamar dan ruang televisi. Empang pun sudah tidak terlihat lagi, yang ada hanyalah hamparan air dari ujung ke ujung, jalanan pun sudah tidak terlihat.

Televisi mulai menayangkan berita-berita terkait banjir yang terjadi di seluruh penjuru Ibu Kota, mereka mengclaim banjir ini terjadi karena curah hujan yang sangat besar dan siklus banjir 5 tahunan yang pernah terjadi tahun 2002 lalu ditambah kiriman air dari Bogor.

Ketika mengingat tahun 2002 waktu aku masih PKL di Indosat, banjir besar memang terjadi tetapi puji Tuhan, kostanku tidak terkena banjir tetapi banjir 5 tahun lalu itu cukup bisa merendam jakarta untuk beberapa lama. Informasi dari televisi banjir yang terjadi saat ini adalah lebih besar dari banjir tahun 2002 yang lalu.

Bantuan makanan pun datang dari posko banjir dan beberapa LSM yang peduli akan bencana ini. Pemilik kosan pun menyediakan sarapan untuk kami. Dari pagi sampai sore semua kami lewati dengan mengobrol dan menonton televisi karena kami tidak bisa kemana-mana Jumat itu. Beberapa tetangga ada yang mengungsi ke rumah keluarganya seperti Ibu tetangga depan dan anak-anaknya diungsikan ke rumah orang tuanya dan yang lainnya di Pak Haji.

Tetangga baruku anak mahasiswa/i Unas baru saja pindah 3 hari yang lalu sepertinya mendapatkan kejutan yang paling dashyat malam kemarin.

Hari Sabtu hujan sudah mulai kecil tetapi air masih tinggi dan tidak memungkinkan kita untuk kembali ke kontrakan. Pagi hari yang kita lakukan adalah memperbaiki motor kami. Menguras oli, membongkar mesin, mengeringkan karburator, mengecek busi dan saringan. Ada Nyong, Bung Jefri, Kakek, Om Leo, Om Arif yang menjelma menjadi mekanik sangat resmi untuk motor-motor yang terendam air banjir. Sambil bercanda kami memperbaiki satu persatu motor kami. Motorku sudah dicoba untuk diperbaiki tetapi apa daya karena sayap motor tidak bisa dibuka, motorku tidak jadi diperbaiki dan harus dirujuk ke bengkel terdekat sepertinya.

Motor yang pertama bisa beroperasional adalah milik Om Leo, punya Om Pung tetangga sebelah kananku, setelah diganti oli dan dibersihkan karburatornya motornya masih saja mati dan dirujuklah ke AHASS di koperasi jatipadang sore itu. Alhasil motornya bisa digunakan walaupun olinya harus terus menerus diganti karena air tidak bisa langsung hilang dengan ganti oli satu atau dua kali.

Sore hari air sudah mulai surut sekitar sepinggang, kami pun langsung kembali ke kontarakan untuk mengambil baju-baju yang terendam. Bajuku sangat banyak sekali sehingga harus bulak balik beberapa kali untuk mendapatkan semua. "Padahal Baju-baju itu sore hari sebelum banjir terjadi sudah disetrika dan diberi pewangi.". "Ah Sial" Pikirku sekali lagi karena tidak bisa menghadiri pernikahan sepupuku Yessy yang menikah dengan Roy sang policeman. Rencana ini sudah dibuat jauh hari sebelumnya tetapi apa daya manusia hanya bisa berencana. Malam hari air masih lumayan tinggi, waktu kami ha dan waktu itu kami habiskan kembali dengan mengobrol , bertukar pikiran dan bercanda satu sama lain.

Jepe sudah mulai merendam baju kotornya, baju-baju kami itu super duper kotornya karena lumpur yang melekat di baju, dibilas beberapa kali dengan air bersih masih saja kotor cokelat dan baunya itu lumayan menusuk karena air banjir itu entah dari mana datangnya mungkin dari kali kotor, mungkin juga dari WC dan septic tank. Ah kotor sekali!

Hari minggu barulah saya mulai mencuci baju dan air sudah mulai turun. Motor mas Ibnu, Jepe dan miliku dibawa ke bengkel pagi itu juga tetapi sayangnya di AHASS service sudah tutup dan motor mas Ibnu dan punyaku dititipkan untuk dikerjakan keesokan paginya saja, sedangkan motor jepri siangnya sudah selesai dan siap beroperasional.

Kita pun mulai bergerak ke kontrakan tersayang, tetangga sudah memulai membersihkan satu persatu perabotan dan rumah kontrakannya. Keadaan kontrakan siang itu sudah tidak keruan: banyak lumpur, air, sampah ditambah lagi bau tidak sedap. Ah banjir memang menyebalkan, menyisakan hal kotor dikontrakanku. Sementara di tempat lain yang banjirnya lebih parah dari daerahku masih tergenang oleh air dan penduduk masih mengungsi di tempat-tempat pengungsian. Beruntung kami mendapatkan tempat pengungsian yang lumayan bersih sehingga tidak satu pun dari kami menderita sakit. Di tempat lain banyak yang mengungsi di sekolahan, masjid sampai ke terminal busway.

Melihat kontrakan sudah hancur amburadul seperti itu, jepe dan aku langsung mengambil perlengkapan perang untuk membersihkannya. Sangat disayangkan banyak sekali barang-barang yang tidak dapat diselamatkan, yang paling berharga bagiku adalah kaset-kaset indie yang sudah lama aku koleksi dan beberapa CD baru pun terpaksa kurelakan sampulnya hilang karena basah. Hanya CD dan kasetnya saja yang aku simpan. Barang-barang elektronik beberapa rusak karena terendam air, lemari olympic itu pun hancur karena dimakan air dan berjamur. Buku-buku pelajaran yang dari semester 1 sampai sekarang pun amblas dimakan oleh air, tidak mungkin lagi diselamatkan, jika dijemur dan kering pasti akan menempel antar halamannya. Ada lebih dari 2 dus buku-buku pelajaran punya jepe dan aku yang direlakan untuk dibuang.

Gerakan bersih-bersih propinsi pun kami galakan sambil sedikit merasa dongkol karena banjir yang seharusnya tidak datang itu. Sikat tembok supaya kuman-kuman meninggal, buang lumpur keluar rumah, pisahkan semua barang-barang yang masih akan di simpan dan semprotkan minyak wangi untuk menghilangkan bau yang sangat tidak sedap itu.

Dari siang hingga petang kami bersihkan kontrakan namun tampaknya tidak akan selesai dalam 1 hari dan diputuskan untuk melanjutkannya besok pagi saja karena badan sudah terasa sangat lelah. Kembali ke tempat pengungsian (Rumah Pak Haji) untuk membersihkan diri dan merendam baju-baju kotor untuk dicuci besok pagi.
Selesai mandi aku dan jepe pergi makan di pasar minggu, jepe ngajak makan soto padang dan ternyata sate padang itu enak juga karena ada perkedel, dendeng dan krupuk berwarna merah ditambah rasa yang pedas dan panas wah segar sekali. Selesai makan aku pergi ke tukang jamu di daerah mangga besar untuk meminum beras kencur, tolak angin dan telur ayam kampung supaya badan tetap fit dan terhindar dari masuk angin tentunya. Kembali ke tempat pengungsian aku pun kemudian lanjutkan dengan ngobrol dan bergurau bersama tetangga yang sama-sama mengungsi ke rumah pak haji. Karena banjir aku jadi kenal dengan tetangga-tetanggaku sendiri yang biasanya hanya say hello saja. Ternyata mereka orangnya cukup menyenangkan, penuh dengan cerita dan menghibur sekali disaat tertimpa oleh bencana ini sehingga aku pun tidak terlalu frustasi karena banjir. Walaupun banjir tetapi setiap pagi, sore dan malam setiap kami berkumpul pasti selalu ada tawa yang lepas hahahaha. Om leo, Kakek, Bung Jefri, Nyong, Om Arif, Ibnu, Nofan, Jepe, Mba Erni, Mba Ita, anak-anak dan tetangga-tetangga lainnya berkumpul jadi satu bahu-membahu melewati bencana ini.

2 hari dibutuhkan untuk membersihkan rumah kontrakanku, 1 hari untuk menghilangkan aroma tidak sedap dan lembab dan barulah hari Rabu rumah itu bisa untuk ditempati tapi aku belum bermalam disitu karena shift pertamaku siang yang dilanjutkan menginap di kantor dan 2 hari setelahnya shift malam sehingga barulah hari jumat aku berlamam di kontrakan. Beberapa tetangga ada yang langsung pindah dari situ, sebelumnya seluruh kontrakan full booked sekarang ada 7 pintu yang tidak berpenghuni. Sayang memang, tetapi mau bagaimana lagi, banjir meninggalkan trauma yang berat bagi mereka. Aku pun masih trauma sedikit, sekali hujan turun langsung mengamankan barang-barang dan mengganjal celah pintu dengan kain supaya air tidak masuk padahal air masih jauh dari pintu.

OK banjir telah berlalu, banyak pengalaman pahit dan manis yang saya dapatkan, semoga tidak ada bencana yang lebih parah lagi. Aku memutuskan untuk ngekost di daerah BSD karena barang-barang sudah tidak ada lagi, bisa lebih dekat ke kantor dan kuliahku pun hanya tinggal 1 mata kuliah, KKP dan Skripsi. Wah inilah penentu masa depanku, tantangan terbesar adalah skripsi, aku ingin cepet lulus euy.


Boedhies merindukan cintanya jam 04:46

***


Comments: Post a Comment

End of things


Siapa ?!?!?
Hai semua, jumpa lagi dengan siapa ya ? panggil aja dapit, supaya akrab ajah cihuy kan ?? lagi gawe di Menara Thamrin, Kuliah di daerah Kuningan, US ?? bukan Jakarta Cing Indonesia pipeul aing.. Lahir di Cimahi City ehem2.. di kampung bernama BAROS, masa kecil yang indah di situ, masa gede di jakarta crowded city hehehehe. Disini coba dituliskan perjalanan sehari hari dapit yang paling membosankan. Okeh THat's All.
Cheers + Beers + Tears



Name :
Web URL :
Message :
/div>



TEuInG


blogger for engine.
blogskins for the skins.
doneeh for the shoutbox + comment.
serendipityq for layout.